Selama hampir tiga puluh lima tahun, perempuan itu selalu duduk dengan takzim di beranda rumah setiap sore hari sampai dengan matahari tenggelam.
Rambutnya kini telah memutih, tubuhnya sudah kian lemah, namun sinar matanya masih sama. Sinar mata akan keyakinannya pada sebuah janji yang akan dipenuhi.
" Bu.. mari kita masuk sudah magrib." sambil menyelimuti bahunya dengan kain.
" Sebentar lagi nduk, bapakmu janji akan pulang hari ini. "

Dilihat dari arsip blog di sidebar, jumlah artikel blog ini baru 8 buah.
BalasHapusBelum memenuhi syarat minimal untuk megikuti Kontes Unggulan Enam Puluh Tiga (minimal telah ada 10 artikel pada saat pendaftaran.Silahkan tambah 3-5 artikel lalu daftar ulang.
Terima kasih
Upps iya pak'de...maaf ga teliti baca persyaratannya.
Hapusibunya blm mengikhlaskan kepergian bapak, ya?
BalasHapusIyaa mbak...
HapusAyooo mbak Vera tetap smngaat ngontesnya, ikutin saran Pakde,deh. Hasilnya pasti okay ^^
BalasHapusBinggung mau nulis apa..lagi dicoba mbakm makasi y uda mampir
Hapusbagus nih mbak ceritanya...
BalasHapustapi kok gak dilanjutin???
cepat ikutin sarannya pakde...
beberapa hari lagi nih...
ayooo!!! ^_^
makasi uda mampi baca, iya pengen banget lagi dicoba
HapusDear Mba Vera, apa kabar ?
BalasHapussemoga dalam keadaan sehat ya. ayo semangat nulis lagi ya..senangnya akhirnya bisa mampir kesini. Trima kasih kunjungannya ke rumah virtualku mba :)