Cari Blog Ini

Senin, 01 Juli 2013

Penantian

Selama hampir tiga puluh lima tahun, perempuan itu selalu duduk dengan takzim di beranda rumah setiap sore hari sampai dengan matahari tenggelam.

Rambutnya kini telah memutih, tubuhnya sudah kian lemah, namun sinar matanya masih sama. Sinar mata akan keyakinannya pada sebuah janji yang akan dipenuhi.

" Bu.. mari kita masuk sudah magrib." sambil menyelimuti bahunya dengan kain.

" Sebentar lagi nduk, bapakmu janji akan pulang hari ini. "





9 komentar:

  1. Dilihat dari arsip blog di sidebar, jumlah artikel blog ini baru 8 buah.
    Belum memenuhi syarat minimal untuk megikuti Kontes Unggulan Enam Puluh Tiga (minimal telah ada 10 artikel pada saat pendaftaran.Silahkan tambah 3-5 artikel lalu daftar ulang.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Upps iya pak'de...maaf ga teliti baca persyaratannya.

      Hapus
  2. ibunya blm mengikhlaskan kepergian bapak, ya?

    BalasHapus
  3. Ayooo mbak Vera tetap smngaat ngontesnya, ikutin saran Pakde,deh. Hasilnya pasti okay ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Binggung mau nulis apa..lagi dicoba mbakm makasi y uda mampir

      Hapus
  4. bagus nih mbak ceritanya...
    tapi kok gak dilanjutin???
    cepat ikutin sarannya pakde...
    beberapa hari lagi nih...
    ayooo!!! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi uda mampi baca, iya pengen banget lagi dicoba

      Hapus
  5. Dear Mba Vera, apa kabar ?
    semoga dalam keadaan sehat ya. ayo semangat nulis lagi ya..senangnya akhirnya bisa mampir kesini. Trima kasih kunjungannya ke rumah virtualku mba :)

    BalasHapus